Pendidikan Keluarga dalam Islam: Strategi dan Implementasinya dalam Kehidupan Modern
pedulilindungi – Keluarga, sebagai salah satu pusat dari tri pusat pendidikan, memainkan peran penting dalam proses pendidikan anak. Keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana kepribadian anak dibentuk, tempat mereka mengenal “aku” mereka, kata-kata, tata nilai, dan norma kehidupan. Anak-anak mulai belajar berkomunikasi dengan orang lain dari lingkup keluarga. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan yang paling sempurna untuk mengasah kecerdasan dan budi pekerti anak, dibandingkan dengan pendidikan dari luar keluarga. Orang tua berperan sebagai pendidik pertama dan tempat anak-anak mencurahkan segala permasalahan yang mereka hadapi.
Oleh karena itu, ketika muncul pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas kepribadian anak, orang tua adalah pihak pertama yang diharapkan. Setelah itu, peran sekolah dan masyarakat juga ikut serta. Orang tua perlu memahami pentingnya bimbingan dan pengasuhan dalam mendidik anak mereka. Sementara itu, sekolah adalah lembaga formal yang bertugas untuk membimbing dan mendidik anak-anak dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Peran orang tua dalam keluarga adalah menuntun dan mengembangkan kepribadian anak, termasuk dalam komunikasi dan cara bergaul. Oleh karena itu, harmonisasi hubungan dalam keluarga harus dijaga agar anak-anak merasa aman dan nyaman di lingkungan keluarganya. Sebaliknya, jika terjadi ketidakharmonisan dalam keluarga, hal ini akan berdampak negatif pada psikologis anak dan menimbulkan keresahan batin.
Selain itu, tugas keseharian orang tua dan tingkat pendidikan mereka juga sangat memengaruhi perkembangan anak. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, keluarga adalah eksponen dari kebudayaan masyarakat dan merupakan pendidikan sosial yang terbaik. Orang tua harus benar-benar memperhatikan kondisi fisik dan rohani anak mereka. Mereka memikul tanggung jawab besar dalam melaksanakan pendidikan anak. Dalam bukunya “Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam”, Abdullah ‘Ulwan menyatakan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan anak-anak mereka, yang mencakup pendidikan keimanan, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan rasional, pendidikan emosional, pendidikan sosial, bahkan sampai pada pendidikan seksual.
Dalam era modern ini, tantangan bagi pendidikan keluarga semakin banyak muncul. Pengaruh modernisasi adalah salah satu di antaranya. Modernisasi menuntut manusia untuk bekerja keras dan efisien. Persaingan antarindividu dan kelompok semakin ketat. Wanita, yang semakin terdidik, merasa memiliki hak yang sama dengan pria untuk bekerja dan mengejar karier. Akibatnya, banyak wanita yang juga aktif di luar rumah, mengejar karier, dan kadang-kadang mengabaikan tugas mereka sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Kondisi ini tentunya mempengaruhi anak-anak yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang dari ibu mereka. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua dapat menyebabkan anak-anak melakukan tindakan yang tidak baik, bergaul dengan teman-teman yang kurang baik, dan terlibat dalam pergaulan bebas. Selain itu, pengaruh materialisme yang berkembang dari modernisasi juga membawa dampak buruk. Kepribadian yang materialistik mendorong individu untuk hanya melakukan tindakan yang menguntungkan secara materi.
Akibatnya, manusia menjadi individualistik, egoistik, dan kehilangan rasa kemanusiaan. Hubungan antarindividu lebih didasarkan pada kepentingan material, bukan lagi pada nilai-nilai sosial atau kemanusiaan. Pengaruh materialisme ini juga mempengaruhi pandangan orang tua terhadap pendidikan agama. Banyak orang tua yang enggan memasukkan anak mereka ke sekolah agama dengan alasan sekolah agama tidak menjanjikan masa depan yang cerah. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan sudah bergeser dari membentuk kepribadian dan ketakwaan menjadi tujuan materi semata. Kondisi rumah tangga yang kacau akibat perkawinan beda agama juga sangat memengaruhi kondisi psikologis anak.
Anak membutuhkan lingkungan rumah yang tenang, damai, dan bahagia. Untuk mengatasi masalah ini, orang tua perlu menciptakan kondisi rumah tangga yang damai dan sejahtera (sakinah), menjalankan tugas mereka sebagai ibu dan bapak, dan memahami pendidikan anak. Mereka perlu memonitor proses belajar anak dan menjalin komunikasi yang baik dengan guru untuk mendukung perkembangan anak. Sekolah hanyalah perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga, sehingga kerjasama antara orang tua dan sekolah sangat penting untuk memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik.